13. Semusim, dan Semusim Lagi

Aku ingat lampu-lampu di sepanjang jalanan kota pukul 6 petang. Waktu itu aku enam belas dan kamu dua puluh.
aku ingat dinginnya sore itu dan ujung lengan jaketmu yang kebesaran di tubuhku. Aku memelukmu dari jok belakang motormu, kita berdua menembus hujan sambil tertawa sebelum menyerah dan berhenti di depan tempat percetakan foto yang sudah tutup.
kamu melepas helmmu dan tercengir ke arahku. "Kamu berantakan." telunjukmu pada hidungku.
"Kamu lebih." kataku tak mau kalah.
kamu tidak peduli, menyelipkan rambutku ke balik telinga, di dalam helm half cover yang kamu pinjamkan untuk pacarmu, katamu, lantas ketawa. Aku meninju lenganmu, menyembunyikan malu. Seragamku yang putih abu-abu dan kaus Metallica-mu sama-sama basah kuyup dan tubuh kita menggigil.
Kamu melihatku, lalu ketawa lagi. Kamu selalu ketawa. Kalau aku diperkenankan mendapat seribu rupiah tiap kamu ketawa aku mungkin sudah bisa membangun perusahaan marketingku sendiri.
"Lain kali kita bawa mobil"
Aku menatapmu jenaka. Kamu terlalu cinta sama si cantik, motor retro lawasmu itu. Aku berani bertaruh kamu nggak akan menukarnya dengan mobil apapun. Dan, aku juga cinta si cantik, karena aku bisa memelukmu tanpa banyak alasan.
Aku ingat sebentar kemudian adzan maghrib berkumandang.
Aku jongkok di depan toko percetakan foto itu. Kamu ikut. Kita melihat hujan jatuh satu-satu. Waktu itu aku enam belas dan kamu dua puluh.

Comments

Popular Posts