15. Kala

Pertama kali aku bertemu dengan Jagat Raya, dia nggak banyak bicara. Laki-laki itu punya sesuatu yang nggak mudah untuk dilupakan. Sorot matanya.
"Salsabila?" 
"Iya Kak?"
"Gak apa, cuma mau mastiin kamu masih di situ"
Aku diam sebentar sebelum akhirnya mengangguk kecil meski kebingungan. Mata kami sekilas bersirobok lewat kaca spion sebelum ia mengenakan helm full-facenya. 
Kalau bukan karena Abang yang ada janji futsal dan menyuruhku pulang sama salah satu alumni yang ikut sparring hari itu, aku nggak akan ada di jok belakang motor retro lawas milik senior kami yang bernama Jagat Raya, point guard, nomor punggung 11, lulus 4 tahun silam. 
Dari jok belakang motornya dia diam, bisu, dan bau rokok.
Kami tidak mengobrol banyak. Dia nggak senyum waktu aku bilang makasih melainkan cuma mengangguk pelan.
Aku mengulurkan helmnya.
"Bawa aja" katanya pelan, yang kontan membuatku lagi-lagi kebingungan dibuatnya.
"Eh?"
"Besok biar gampang kalau saya jemput lagi"
Aku baru mau nanya maksud ucapannya barusan tapi dia lebih dulu memacu motornya.


***


Waktu kemudian kami nggak sengaja bertemu lagi di satu senja, dahinya yang berkeringat sehabis latihan bersama tim basket berkerut melihatku. 
Aku melemparkan senyum canggung yang dibalasnya singkat dengan senyum satu sudut, sebelum menghampiri Abangku di sudut lain lapangan.
"Bentar ya Ca, satu kwarter" pamit Abangku seperti biasa, aku segera menyetujuinya sebelum kemudian melipir untuk menonton dari pinggir lapangan.
Kemudian peluit tanda babak terakhir permainan hari ini dimulai dibunyikan dan untuk pertama kalinya, aku menyaksikan Abangku payah dengan permainannya sendiri. Jagat Raya mengalahkan Jovian Sastra dalam permainan satu lawan satu. 
Waktu kemudian aku dan Abangku berjalan melewatinya, Abang memukul pundaknya jahil yang cuma dibalasnya dengan gelak tawa. Lalu mata kami bertemu lagi, senyum satu sudut masih menghiasi wajahnya yang penuh peluh disandingkan dengan sorot mata sipitnya yang misterius. Untuk beberapa saat aku sedikit kesulitan mengalihkan pandang pun meredakan rona merah di pipiku.
"Yok, Ga" pamit Abangku akhirnya. 
"Iya iya" sahut point guard itu sambil mengibaskan tangannya ke Abang lantas sekali lagi melirik ke arahku dengan senyum satu sudut yang sama, "Hati-hati" gumamnya entah ke siapa.
Hati-hati.
Terhadap sorot mata dan senyum itu, aku memang sepantasnya hati-hati.


***


Hanya saja mungkin aku tidak cukup hati-hati. sebab kali inipun aku menemukannya lagi. Di parkiran sekolah kami.
masih dengan Converse hitam lusuh yang sama seperti pertama kali kami ketemu, jins belel yang sama, cuma kausnya aja yang beda; kaus raglan Metallica yang sablonnya udah hilang di sana-sini sebab usia. 
Lidahku terlalu kelu untuk memanggil namanya, jadi aku cuma melihatnya yang sedang setengah bersandar pada motornya sembari memandang ke lapangan. Dari kepulan asap di sekitarnya aku bisa tahu ia sedang merokok.
Setahuku hari ini nggak ada sparring jadi aku nggak terlalu yakin untuk apa dia ada di sini, sendirian.
Tapi tepat saat aku memperhatikan air mukanya, saat itu juga ia mendongak.
"Salsabila?" 
"K-kak Jagat"
"Aga aja"
"Kamu biasanya dipanggil apa?"
"Caca aja Kak…" entah kenapa cuma itu yang bisa kukatakan, dan entah bagaimana lelaki di hadapanku merasa itu lucu, karena kini dia tengah terkekeh kecil, satu batang nikotin terapit di antara bibirnya.
"Kalau saya manggil kamu Kecil, boleh?" katanya.
"Karena badan kamu mungil, bisa saya kantongin"
Aku mengerutkan kening sedikit bingung, tapi lebih banyak herannya. Kenapa juga dia mau ngantongin aku?
"Saya bercanda" gumam Jagat Raya  kemudian. 
Hening. Aku mencengkeram tali tasku, bersiap untuk pamit, waktu tiba-tiba ia mematikan ujung rokoknya dan menghampiriku.
"Saya boleh nggak antar kamu lagi?" ujarnya, menghapus jarak di antara kami sedikit demi sedikit. 


***


way i see it
yes we're odds to be 
way i see it
oh i like it here

Comments

Popular Posts